Lebaran identik dengan baju baru, aneka kue, juga makanan enak. Sayangnya untuk tahun ini aku nampaknya belum mampu berlebaran. Tak apalah, mungkin tahun depan lebaran mampu kujalani. Tapi Alhamdulillah, Insya Allah masih tetap bisa merayakan Idil Fitrih.
Selamat bagi yang merayakan lebaran. Mari sama2 kembali ke kesucian :)...
Pemilu
Popular Posts
-
Diangkat Menjadi Punu’ Bayi dengan selaput ketuban tipis Marousi -- Sebuah foto menakjubkan yang diposting seorang dokter di Yun...
-
Orang Mongondow kebanyakan kurang serius dalam membahas berbagai persoalan, termasuk yang terkait dengan dirinya. Selalu saja ada ca...
-
Blog ini belum diaktifkan, tulisan baru maupun lama bisa kawan-kawan temukan di blog : http://anuarsyukur.pinotaba.com/ silahkan klik gamba...
-
Adat bo oadatan, adat bo atorang sampai ke dia’ ko ada-adat merupakan kalimat yang sering muncul dari bibir sebagian besr masyarakat ...
-
Nah, tu terpedonya belum ada yang ngambil, awas jangan rebutan ya :) (foto : google) Palakat : Mengingat urusan terpedo ini ternyata ...
-
Para model di "Jembatan Merah", Surabaya. Jika masih ada "Totoy Uatoy" di Mopait, para model juga bisa berfose di ...
-
Tradisi yang bisa jadi wisata ramadhan nampaknya akan menghilang (foto : pribadi) Puasa tinggal lima hari lagi, para pengurus BTM, ...
-
Ini nasi kebuli tapi bagi yang lidahnya masih perawan bisa juga dinamakan nasi kibuli :) (foto : google) Setelah sholat id, kami kemb...
-
"Tanya si Mas dulu apa wanita hamil boleh berkurban juga tanya sama si mas apa dia sudah punya anak" (foto: google) Kurang...
-
Lebaran identik dengan baju baru, aneka kue, juga makanan enak. Sayangnya untuk tahun ini aku nampaknya belum mampu berlebaran. Tak apalah...
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan 1434 h. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan 1434 h. Tampilkan semua postingan
Mengenang Tuntul, Tradisi di BMR
![]() |
| Tradisi yang bisa jadi wisata ramadhan nampaknya akan menghilang (foto : pribadi) |
Puasa tinggal lima
hari lagi, para pengurus BTM, Pegawai Syar’i, para tokoh masyarakat berkumpul
di secretariat BTM Darusalam Motoboi Kecil. Oleh Robi Paputungan yang saat itu
menjadi komandan pemuda dibawah Remaja Masjid, kami diminta hadir juga. Kami
hendak mengajukan pembuatan “tuntul” di lapangan.
Jujur diakui
tidak gampang. Lapangan Motoboi Kecil luasnya sekitar 150 x 120 meter, jika
keseluruhan lapangan dipasang tuntul bisa memakan minimal 3 drum minyak tanah.
“Rencana yang
baik, saya yang akan menanggung satu drum,” kata seorang pegawai syar’i yang
sudah tua namun penuh semangat.
musafir 1
S

Gueemang gak puasa, soalnya gue musafir
eorang
pegawai sara' bertemu dengan warga yang sedang asyik menyeruput kopi
dan menghisap sebatang rokok di pagi yang dingin pas hari ke 8
ramadhan--enak kali ya, hehhe...
"Dasar tak tahu malu, sudah ndak puasa, masih menunjukan di muka umum lagi. Dasar!" semprot sang pegawai sara'.
"Wah, payah nich jiow. Saya ini kan musafir, jadi ndak wajib puasa," orang itu menjawab santai.
"Musafir apa? sampai sekarang kamu hanya di sini, pake banyak alasan lagi. Memang benar2 *********," umpat si pegawai sara'.
"Yeh, si jiow ini. Saya ini kan musafir, saya sedang dalam perjalanan
menuju alam kubur, jiow. Dunia ini kan hanya halte alias tempat transit
saja, jadi saya tetap saja musafir. Dasar jiow..."

Dari Puasa ke Puasya
![]() |
| Makanan sebanyak ini harus dihabiskan saat berbuka? (Foto : Google) |
PUASYA?
Kalau PUASA aku sangat mengerti, minimal artinya menahan lapar dan dahaga serta perbuatan lain bagi yang sudah punya pendamping dan di siang hari. Tapi PUASA YA? Apa yang mau dipuaskan dalam ramadhan?
Kawan yang meng-sms bukanlah ustaz, jauh dari kesan seorang filosof, maupun sufi. Dia hanya teman bergurau dengan gurauan-gurauan yang terkadang susah dinalar. Untung dia sama denganku, muslim. Kalau tidak, bisa kutafsirkan pelecehan. Aku agak dongkol dan bingung menjawab sms itu, maka kudiamkan saja.
Siksa di Hari Pertama (1)
![]() |
| Foto : Google |
Kalau
demokrasi diterapkan juga dalam urusan ke-Tuhan-an, bisa jadi akan muncul
perdebatan tentang system demokrasi yang tepat. Jika system demokrasi yang kita
terapkan sekarang ini diberlakukan maka harus di bentuk Komisi Pemilihan,
Panwas, Mahkamah yang akan menyidangkan sengketa, dan lain-lain. Berikutnya
akan ada kampanye baik kampanye dialogis maupun pengerahan massa.
Ketika malam menjelang hari pemilihan, akan ada serangan fajar—kemungkinan juga
akan terjadi serangan untuk menggolputkan sehingga suara lawan akan berkurang.
Jika belum yakin akan menang walau sudah melakukan serangan fajar, akan diteruskan
dengan serangan siang ketika para pemilih sudah ke tempat pemungutan suara.
Walhasil, ujung-ujungnya uang yang akan menang. Lha, urusan ke-Tuhan-an kok ya
memenangkan uang? Ini jelas sangat tidak seru tapi sudah saru!
Berbukalah dengan yang Manis2
![]() |
| "Berbukalah dengan yang manis2, tapi bukan berarti berbuka bareng gue ya, walau gue memang manis" (Foto : Google) |
"Saya akan makan lalampa atau panada yang banyak setelah minum air putih nanti," kata Bangkung.
"Eh, tidak boleh, harus dengan yang manis-manis dulu saat berbuka..."
"Lha, yang makan itu saya atau situ?" Bangkung memotong Popalu.
"Memang kamu yang makan..."
"Nah, kalau mulutku yang digunakan untuk makan, gigiku yang digunakan untuk mengunya, lidaku yang digunakan untuk mengecap, kenapa harus kamu yang ngatur," bentak Bangkung.
"Bukan aku yang ngatur karena memang sudah aturannya begitu..."
Perdebatanpun terus berlangsung, namun Bangkung tetap susah mengalahkan argumentasi Popalu yang tak berapi-api tapi panjang-panjang. Maka, dia pun bangkit dari tempat duduknya.
Gadis itu cantik, kulit putih bersih, baju yang dia pakai menampakan tubuh gitarnya. Gadis itu sendirian, selalu tertunduk, sibuk dengan hpnya. Tepat di depan gadis itu Bangkung mendarat. Dengan tampang yang serius, Bangkung menyandarkan siku di meja dan memandangi lamat-lamat si gadis. Menyadari ada orang di depannya, gadis itupun mendongak. Subhanallah, cantik luar biasa. Dia tersenyum pada Bangkung yang menampakan lesung pipinya di kedua pipi.
"Ngapa'in kamu, Angkung?" kata gadis itu rupanya sudah mengenal Bangkung.
Waktu buka tinggal menghitung detik, Bangkung dan Popalu telah menghamburkan banyak waktu.
"Buka puasa harus mendahulukan yang manis-manis..."
GEDEBUG...
Itu bukan suara bedug para pembaca, tapi suara tubuh Bangkung yang terjengkang. Rupanya pacar si gadis itu datang dan marah karena mengira Bangkung telah merayu si gadis.
"Kenapa kau jorokan aku? Aku mau buka kok," protes Bangkung sambil mengusap pantat.
"Kenapa kau rayu cewekku?" bentak lelaki itu.
"Siapa yang merayu? Oh ya, sebentar," maka Bangkungpun menyeret Popalu. "Dia yang bilang berbuka harus yang manis-manis lebih dulu. Di sini, yang manis itu cuma cewekmu. Jadi, apa salahnya?"
"Iya, kamu enak dapat yang manis. Tapi dia langsung berhadapan dengan yang asam dan pahit," kata si lelaki, pacar gadis itu. "Dasar Bangkung!!!"
Langganan:
Postingan (Atom)




