Pemilu

Pemilu

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label Ramadhan 1434 h. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan 1434 h. Tampilkan semua postingan

Selamat Lebaran untuk yang Sanggup Merayakan

Lebaran identik dengan baju baru, aneka kue, juga makanan enak. Sayangnya untuk tahun ini aku nampaknya belum mampu berlebaran. Tak apalah, mungkin tahun depan lebaran mampu kujalani. Tapi Alhamdulillah, Insya Allah masih tetap bisa merayakan Idil Fitrih.
Selamat bagi yang merayakan lebaran. Mari sama2 kembali ke kesucian :)...

Mengenang Tuntul, Tradisi di BMR


Tradisi yang bisa jadi wisata ramadhan nampaknya
akan menghilang (foto : pribadi)

Puasa tinggal lima hari lagi, para pengurus BTM, Pegawai Syar’i, para tokoh masyarakat berkumpul di secretariat BTM Darusalam Motoboi Kecil. Oleh Robi Paputungan yang saat itu menjadi komandan pemuda dibawah Remaja Masjid, kami diminta hadir juga. Kami hendak mengajukan pembuatan “tuntul” di lapangan.
Jujur diakui tidak gampang. Lapangan Motoboi Kecil luasnya sekitar 150 x 120 meter, jika keseluruhan lapangan dipasang tuntul bisa memakan minimal 3 drum minyak tanah.
“Rencana yang baik, saya yang akan menanggung satu drum,” kata seorang pegawai syar’i yang sudah tua namun penuh semangat.

musafir 1

S
Gueemang gak puasa, soalnya gue musafir
eorang pegawai sara' bertemu dengan warga yang sedang asyik menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokok di pagi yang dingin pas hari ke 8 ramadhan--enak kali ya, hehhe...

"Dasar tak tahu malu, sudah ndak puasa, masih menunjukan di muka umum lagi. Dasar!" semprot sang pegawai sara'.

"Wah, payah nich jiow. Saya ini kan musafir, jadi ndak wajib puasa," orang itu menjawab santai.

"Musafir apa? sampai sekarang kamu hanya di sini, pake banyak alasan lagi. Memang benar2 *********," umpat si pegawai sara'.

"Yeh, si jiow ini. Saya ini kan musafir, saya sedang dalam perjalanan menuju alam kubur, jiow. Dunia ini kan hanya halte alias tempat transit saja, jadi saya tetap saja musafir. Dasar jiow..."

Dari Puasa ke Puasya

Makanan sebanyak ini harus dihabiskan
saat berbuka? (Foto : Google)
GIMANA PUASYANYA?

PUASYA?

Kalau PUASA aku sangat mengerti, minimal artinya menahan lapar dan dahaga serta perbuatan lain bagi yang sudah punya pendamping dan di siang hari. Tapi PUASA YA? Apa yang mau dipuaskan dalam ramadhan?

Kawan yang meng-sms bukanlah ustaz, jauh dari kesan seorang filosof, maupun sufi. Dia hanya teman bergurau dengan gurauan-gurauan yang terkadang susah dinalar. Untung dia sama denganku, muslim. Kalau tidak, bisa kutafsirkan pelecehan. Aku agak dongkol dan bingung menjawab sms itu, maka kudiamkan saja.

Siksa di Hari Pertama (1)

Foto : Google

Hari pertama dan hari terakhir, itu persoalan yang selalu muncul ketika ramadhan. Kalau hari pertama yang jadi persoalan, pasti akan bermasalah dalam penentuan hari lebaran. Organisasi ke-Islam-an jarang bersepakat pada persoalan seperti ini. Wajarlah. Untuk urusan keduniaan mungkin bisalah kita terapkan demokrasi, tapi demokrasi tak mungkin diterapkan dalam urusan ke-Tuhan-an seperti ini.
Kalau demokrasi diterapkan juga dalam urusan ke-Tuhan-an, bisa jadi akan muncul perdebatan tentang system demokrasi yang tepat. Jika system demokrasi yang kita terapkan sekarang ini diberlakukan maka harus di bentuk Komisi Pemilihan, Panwas, Mahkamah yang akan menyidangkan sengketa, dan lain-lain. Berikutnya akan ada kampanye baik kampanye dialogis maupun pengerahan massa. Ketika malam menjelang hari pemilihan, akan ada serangan fajar—kemungkinan juga akan terjadi serangan untuk menggolputkan sehingga suara lawan akan berkurang. Jika belum yakin akan menang walau sudah melakukan serangan fajar, akan diteruskan dengan serangan siang ketika para pemilih sudah ke tempat pemungutan suara. Walhasil, ujung-ujungnya uang yang akan menang. Lha, urusan ke-Tuhan-an kok ya memenangkan uang? Ini jelas sangat tidak seru tapi sudah saru!

Berbukalah dengan yang Manis2

"Berbukalah dengan yang manis2,
tapi bukan berarti berbuka bareng gue ya, walau gue
memang manis"
(Foto : Google)
Hari itu Bangkung dan Popalu berencana akan buka puasa di pasar ramadhan. Keduanya sama2 mengejek menu rumah yang itu2 saja. Waktu yang tersisa masih 15 menit namun kedua sahabat itu sudah mengambil tempat duduk. Namun duduk akan selalu menjadi buruk karena bisa dipastikan akan mengarahkan keduanya ke perdebatan. Kali ini juga begitu.
"Saya akan makan lalampa atau panada yang banyak setelah minum air putih nanti," kata Bangkung.
"Eh, tidak boleh, harus dengan yang manis-manis dulu saat berbuka..."

"Lha, yang makan itu saya atau situ?" Bangkung memotong Popalu.

"Memang kamu yang makan..."


"Nah, kalau mulutku yang digunakan untuk makan, gigiku yang digunakan untuk mengunya, lidaku yang digunakan untuk mengecap, kenapa harus kamu yang ngatur," bentak Bangkung.

"Bukan aku yang ngatur karena memang sudah aturannya begitu..."


Perdebatanpun terus berlangsung, namun Bangkung tetap susah mengalahkan argumentasi Popalu yang tak berapi-api tapi panjang-panjang. Maka, dia pun bangkit dari tempat duduknya.

Gadis itu cantik, kulit putih bersih, baju yang dia pakai menampakan tubuh gitarnya. Gadis itu sendirian, selalu tertunduk, sibuk dengan hpnya. Tepat di depan gadis itu Bangkung mendarat. Dengan tampang yang serius, Bangkung menyandarkan siku di meja dan memandangi lamat-lamat si gadis. Menyadari ada orang di depannya, gadis itupun mendongak. Subhanallah, cantik luar biasa. Dia tersenyum pada Bangkung yang menampakan lesung pipinya di kedua pipi.


"Ngapa'in kamu, Angkung?" kata gadis itu rupanya sudah mengenal Bangkung.


Waktu buka tinggal menghitung detik, Bangkung dan Popalu telah menghamburkan banyak waktu.


"Buka puasa harus mendahulukan yang manis-manis..."


GEDEBUG...

Itu bukan suara bedug para pembaca, tapi suara tubuh Bangkung yang terjengkang. Rupanya pacar si gadis itu datang dan marah karena mengira Bangkung telah merayu si gadis.

"Kenapa kau jorokan aku? Aku mau buka kok," protes Bangkung sambil mengusap pantat.


"Kenapa kau rayu cewekku?" bentak lelaki itu.


"Siapa yang merayu? Oh ya, sebentar," maka Bangkungpun menyeret Popalu. "Dia yang bilang berbuka harus yang manis-manis lebih dulu. Di sini, yang manis itu cuma cewekmu. Jadi, apa salahnya?"

"Iya, kamu enak dapat yang manis. Tapi dia langsung berhadapan dengan yang asam dan pahit," kata si lelaki, pacar gadis itu. "Dasar Bangkung!!!"