Pemilu

Pemilu

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label catatan lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan lepas. Tampilkan semua postingan

Perlunya Pengukuhan Kisinungkudan


Adat bo oadatan, adat bo atorang sampai ke dia’ ko ada-adat merupakan kalimat yang sering muncul dari bibir sebagian besr masyarakat Bolmong Raya. Saya pribadi tidak yakin bahwa seringnya kalimat ini diucpkan berarti masyarakat masih hidup dalam alam yang beradat istiadat seperti masa lalu. Kalimat-kalimat ini sepanjang yang saya lihat nyaris sama dengan lagi Miras dari Rhoma Irama yang kita dengarkan dengan penuh penghayatan sambil bergoyong dan boto cap tikus di tangan kanan. Kalimat-kalimat ini bagaimanapun harus kita akui dengan sedih bhwa dia belum meresap ke hati, dia hanya diucapkan begitu saja dan denting suaranya sekalipun langsung membumbung ke langit ke tujuh tanpa ada jejaknya di bumi—nyaris sama dengan asap kebakaran yang menghebohkan namun asap itu tak pernah bertahan lama di tempat kejadian. Meliht kondisi ini, saya memandang wajar jika ada masyarkat yang memndang di bumi para Bogani ini sudah tidak beradat istiadat sehingga tanahnyapun tak bisa lagi digolongkan dalam wilayah dat dan hukum-hukum adat tak lagi mengikat.

Bupati Dijebak?


Dugaan Ketua KNPI Bolmong, Anhar Pasambuna, bahwa Bupati Bolmong Salihi Mokodongan dijebak sangat cukup mengagetkan. Memng ini hanya dugaan saja, belum bisa dibuktikan kebenarannya. Namanya juga dugaan, tentu perlu waktu dan cara tersendiri untuk membuktikan. Anhar tentu saja tidak dapat disalahkan dalam berargumentasi karena dia pun punya indikator-indikator untuk memperkuat argumentasinya. Dan itu hak beliau dalam mengkritisi berbagai persoalan, terutama di wilyah beliau. Saya pun tak tertarik untuk membuktikan dugaan Anhar tersebut, tentu ada pihak lain—misalnya Kepolisian—yang memang didesak sejak lama untuk menyelidiki disclaimer di Bolmong yang menjadi muasal dugaan Anhar ini. Saya justeru tertarik dengan helaan dari dugaan Anhar.

Manajemen Potensi



Maha suci Tuhan yang telah menciptakan keragaman. Dia tak hanya menciptakan hal yang berpasangan seperti siang-malam, terang-gelap, lelaki-perempuan, pemangsa-dimangsa, penguasa-rakyat, kaya-miskin, penindas-ditindas, dan lainnya. Bahkan dalam diri manusia, Tuhan menciptakan keragaman yang merupakan potensi. Ada pelukis, ada penulis, ada tukang, ada pemikir, ada orang berpisik kuat, dan lainnya. Dari sini akan terbagi-bagi lagi. Ada pelukis alam, karikatur, abstrak, dan lainnay. Ada penulis artikel, puisi, cerita, dan lainnya. Ada tukang bangunan, perabot, tukang mesin, dan lainnya. Ada pemikir ekonomi, politik, sosial, alam, dan lainnya. Yang berpisik kuat bisa jadi tentara, polisi, dan lainnya.

Mengenang Tuntul, Tradisi di BMR


Tradisi yang bisa jadi wisata ramadhan nampaknya
akan menghilang (foto : pribadi)

Puasa tinggal lima hari lagi, para pengurus BTM, Pegawai Syar’i, para tokoh masyarakat berkumpul di secretariat BTM Darusalam Motoboi Kecil. Oleh Robi Paputungan yang saat itu menjadi komandan pemuda dibawah Remaja Masjid, kami diminta hadir juga. Kami hendak mengajukan pembuatan “tuntul” di lapangan.
Jujur diakui tidak gampang. Lapangan Motoboi Kecil luasnya sekitar 150 x 120 meter, jika keseluruhan lapangan dipasang tuntul bisa memakan minimal 3 drum minyak tanah.
“Rencana yang baik, saya yang akan menanggung satu drum,” kata seorang pegawai syar’i yang sudah tua namun penuh semangat.

MEMPERTANYAKAN KELURAHAN

Para calon Kades, pemandangan seperti
ini tak terlihat lagi di Kelurahan
(gambar : google)
BEBERAPA hari yang lalu, Walikota Malang mengatakan bahwa desa-desa yang ada di kota Malang akan di rubah statusnya menjadi Kelurahan. Perubahan status ini terkait dengan status Kota Malang. Menurut pandangan ini, keberadaan Malang sebaga “Kota” harus juga dibarengi dengan perubahan status dari desa-desa yang berada diwilayahnya. Pandangan ini dikontraskan dengan “Kabupaten” dimana keberadaan Desa masih di anggap lumrah.
Bagi banyak pihak, perubahan ini menunjukan peningkatan status. Benar demikian?

Ketika Sejarah Dikilo



Para model di "Jembatan Merah", Surabaya.
Jika masih ada "Totoy Uatoy" di Mopait, para model
juga bisa berfose di sana (gambar : google)

Jangan sekali-kali melupakan sejarah, ungkap Bung Karno dalam salah satu pidatonya yang memukau. Ungkapan Bung Karno ini merupakan prasasti tersendri sehingga merasuk ke hati setiap warga Indonesia sehingga selalu diulang. Kita tak boleh melupakan jas merah kata kawan-kawan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Jasa merah merupakan kependekan dari Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dari Bung Karno. Walau aku dikader di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menurut sejarah merupakan salah satu kekuatan yang menggulingkan Bung Karno namun seratus persen dan tanpa keraguan aku mengakui kebenaran perkataan Bung Karno dan kawan-kawan GMNI itu.

Punu'

gambar : googel
Punu' adalah pemimpin melegenda yang keberadaannya  700-an tahun lalu, itu jika benar perhitungan dibeberapa literatur yang mengatakan bahwa Mokodoludut merupakan Punu' pertama yang memerintah tahun 1300-an. Saya katakan 'jika benar' karena menurut beberapa kajian dari daerah sekitar yang terkait dengan masa purba Bolmong Raya, dinyatakan Bolmong Raya ratusan tahun lebih tua dibandingkan literatur yang ada. Yang jelas masa Punu' berakhir ketika pemimpin digantikan oleh Manoppo yang dibaptis dengan nama Jacobus.
Saya katakan masa Punu' melegenda karena pada ini cukup banyak hal yang luar biasa. Wilayah kekuasaannya yang mencapai Maadon atau Manarow atau Lembe atau Wenang yang sekarang disebut Manado setelah Punu' Damopolii menaklukan Bobentehu yang berkuasa di sana. Sistemnya yang demokratis karena Kinalang atau Punu' dipilih oleh para pemimpin wilayah yang dijuluki Bogani walau yang dipilih harus tetap dari turunan Mokodoludut. Pemimpin demikian disegani, disayangi dan dihormati rakyatnya; sampai-sampai meninggalnya diadakan upacara duka selama 7 hari dan 7 malam yang dimulai sejak masa Damopolii--upacara ini disebut mongalang dan orang yang diupacarai disebut Kinalang sehingga Damopolii disebut juga 'Ki Damopolii inta ki Kinalang'. Terciptanya sumpah Paloko-Kinalang atau antara Penguasa dan Rakyat yang menurut saya menjadi penjamin bahwa kedua pihak sama-sama ingin pembangunan untuk semua.

Malang dan Kotamobagu



Ini Malang (google)

Karesidenan Malang sangat sedikit mendapat tempat yang layak ketika memperbandingkan daerah. Wajar mengingat sangat sedikit yang hidup tahunan di sana. Studi banding yang dilakukan oleh instansi hanya berlangsung beberapa hari. Itupun tanpa report yang jelas. Saya coba kontak kawan-kawan ketika ada studi banding dari Bolmong Raya pada umumnya dan Kotamobagu pada khususnya namun hasil penelusuran ada baiknya tak disampaikan di sini.

Oya’ alias Malu



 Oya' atau malu sepertinya sudah menjadi trade mark orang Mongondow, dalam berbagai pertemuan sering disebutkan oya' in Mongondow yang disandingkan dengan penyebutan sifat daerah lain. Penyebutan ini memang berkonotasi negatif. Seorang yang pemalu biasanya tidak percaya diri, kuper alias kurang pergaulan, yang ujung-ujungnya tidak mampu bersaing. Dan kondisi ini memang ada di Bolaang Mongondow Raya.
Pada anak, menurut Lynne Kelly seorang ahli tentang pemalu pada anak, penelitian telah menunjukkan bahwa siswa pemalu dianggap kurang kompeten. Walaupun rasa malu ini tidak berkaitan dengan kecerdasan, rasa malu mempengaruhi keseluruhan pengalaman pendidikan secara negatif. Rasa malu menjadi isu penting di dalam kelas ketika siswa dievaluasi, sebagian, partisipasi kelas mereka. Pada kenyataannya, penelitian menunjukkan bahwa siswa yang pemalu akan memiliki nilai lebih rendah daripada angka rata-rata siswa yang tidak pemalu.

Hasil Baik dengan Proses Baik

gambar: google
Kami, beberapa orang teman sering berkumpul untuk membahas beragam hal, juga untuk berbagi. Kami tergolong cukup karib, pembahasan bahkan sampai ke persoalan individu. Jadi, sebenarnya tak ada yang perlu tersinggung dengan apa pun yang dipikirkan, dikatakan ataupun dilakukan oleh kawan-kawan.
Namun, pada waktu itu bulan puasa seperti sekarang, perkawanan kami nyaris bubar. Persoalannya hanya karena minuman untuk berbuka. 
Pada saat itu, seorang teman kami yang cukup rajin hunting bahan buka puasa gratis datang dengan tas kresek yang isinya bermacam-macam.

Catatan Anak Guru



Sebuah Khayal
Seorang guru mengapresiasi karya anak guru,
narsis sedikit boleh kan? :)
an
Djudin Syukur, demikian nama Papa—aku biasa memanggil beliau begitu. Beliau hanyalah orang kecil yang menjadi guru SD sejak akhir 70-an. Awalnya beliau mengajar di SD Motabang kemudian ke Tanoyan dan terakkhir di Tungoi sampai beliau meninggal di hari kedua Idil Fitrih tahun 2000.
Ketika reformasi, cukup banyak aspirasi soal nasib Umar Bakri ini. Memang nasib para guru awalnya cukup memiriskan. Kami disekolahkan bukan hanya dari gaji Papa sebagai guru tapi kebanyakan ditunjang oleh hasil kebun. Selepas mengajar, biasanya Papa akan ke kebun dan pulang menjelang malam—bahakn beberapa kali tidur di kebun dan dari kebun ke sekolah. Mungkin ini yang membuat Papa meminta untuk pindah di SD Inpres Molayak yang tak jauh dari kebun kami. Walau saya katakan ke beliau bahwa tak lama lagi kehidupan beliau sebagai guru akan terangkat sehingga tak perlu lagi terlalu ngotot bekerja di kebun namun nampaknya beliau tak begitu percaya.

Jalan Hidup



Sumber : Google

Kemarin malam, capek luar biasa mendera. Perjalanan ke Molibagu sudah kali ke lima aku lakukan, bahkan beberapa kali lanjut ke Lungkap—Pinolosian. Namun kali ini aku benar-benar dibuat capek. Mungkin karena malamnya hanya tertidur sejam dan sesampainya di sana harus menunggu. Andai tak ada berita menggembirakan bahwa apa yang sedang aku usahakan telah diproses sampai pada tingkat tertentu, mungkin aku tak terhibur. Alhamdulillah, perjalanan yang baik walau masih juga menggantung. Dan capek terbayar dengan informasi itu.

Dunia Penulisan Daerah


Mobois, salah satu komunitas penulis daerah
Tulisan itu mengukir keabadian. Mungkin kata-kata seorang teman diatas agak berlebihan. Saya katakan berlebihan karena tulisan dibuat disatu ruang dan waktu tertentu yang jelas akan berubah pada ruang dan waktu yang lain. Padahal kata banyak orang yang pintar dan bijak, yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
Tapi saya agak setuju dengan peletakan fungsi tulisan sebagai media untuk mengisahkan suatu peradaban. Socrates, Plato, dan lainya telah mengisahkan bagaimana peradaban di Yunani sebelum masehi. Pencipta huruf paku di Mesir juga membuat kita dapat mengetahui kisah di Mesir pada suatu masa, begitu juga dengan Babad Tanah Jawi yang mengisahkan tentang Jawa, Lontara Bugis di selatan Celebes, dan lainnya.