Pemilu

Pemilu

Popular Posts

Mokodoludut Mitos? (1)








Orang Mongondow kebanyakan kurang serius dalam membahas berbagai persoalan, termasuk yang terkait dengan dirinya. Selalu saja ada canda. Termasuk ketika membahas tentang Mokodoludut. Namun ada candaan yang membuat kita jadi merenung. Ini dari teman yang dengan entengnya berujar : Untung Ina' Lie lupa bahwa Ama' Lie menemukan telur, kalau dia tidak lupa dan telur itu jadi digoreng pasti sejarah Mongondow tidak akan ada.

Maksud dari teman ini adalah telur yang dalam pengkisaan dinyatakan menetas dan ternyata hasilnya adalah manusia yang kemudian diberi nama Mokodoludut. Penamaan Mokodoludut sendiri karena saat telur menetas terjadi suara gemuruh. Mokodoludut kemudian menjadi pemimpin pertama di tanah Mongondow dengan gelar Tompunu'on Moloben yang saat ini lebih disingkat Punu'. Jika telur itu jadi di rebus atau digoreng maka lenyaplah Mongondow dan sejarahnya.
Tapi, apakah seorang pembentuk peradaban bisa dinyatakan demikian? Sang teman jelas bercanda dan sebagai sesama orang Mongondow sangat dipahami. Tapi ada juga yang mencoba menganalisis serius dengan mempergunakan bermacam perangkat pengetahuan dengan menyebut Mokodoludut ini sebagai mitos. Mitos adalah barang ciptaan yang sebenarnya tidak ada. Sama saja dengan mengatakan bahwa Mokodoludut tidak ada yang akhirnya Mongondow tidak ada. Masalahnya, yang mengatakan mitos ini sama sekali tak bercanda. Wah, bahaya!
Mengingat dampak pemitosan Mokodoludut maka wajar jika banyak yang marah pada orang yang menjadikannya sebagai mitos. Bahkan wajar jika okol lebih banyak bicara dibandingkan akal. Lha, eksistensi satu orang saja dihilangkan akan memunculkan pertumpahan darah, apalagi satu komunitas yang dihilangkan. Tapi karena yang memitoskan serius sehingga perlu penyikapan yang serius juga tinimbang menjitak kepalanya, pun untuk menampakan bahwa orang Mongondow bukanlah bangsa yang tak beradab maka baiklah disikapi dengan akal dulu.
Memang ada banyak cela dari pengkisaan tentang Mokodoludut ini. Selain hanya dari mulut ke mulut, masyarakat sekarang mencoba memahami ini dari kacamata kekinian (walau tak jarang ada juga yang tak menggunakan analisa kedisinian tapi mengentalkan kekinian). Pemahaman kekinian menganggap pernyataan "A" sudah pasti "A" tanpa memperhitungkan bisa saja terselip "B" dari pernyataan itu. Satu contoh ketika disebutkan "senjata" maka banyak yang akan berpikir itu pasti "pistol" atau "senapan", padahal "batu" juga bisa menjadi senjata. Ada yang menyebut ini kepastian ilmiah, saya menyebutnya belenggu ilmiah. Dan belenggu ilmiah itu yang terjadi pada Mokodoludut ini.
Telur adalah telur, karena itu sang teman yang bergurau itu benar-benar membayangkan bahwa itu telur yang bisa digoreng atau direbus. Beberapa pengkisahpun nampaknya membayangkan seperti itu sehingga ada yang menulis "Ina' Lie selalu lupa memasak telur itu sampai akhirnya meletus dan ternyata didalamnya ada bayi manusia". Padahal kalau kita mau berpikir ilmiah juga maka akan timbul banyak tanda tanya dari telur ini. Alam sadar kita pasti akan memikirkan telur itu luar biasa besar mengingat Mokodoludut berperawakan normal--tidak kerdil seperti umumnya manusia yang kecil ketika lahir. Telurnya bisa jadi sebesar telur dinosaurus, namun akal kita pasti akan menolak karena sudah tak ada lagi dinosaurus pada masa itu. Jadi, kalau mau dikaji secara ilmiah itu pasti bukan telur.
Sebenarnya tanpa mengkerutkan kening kita akan tahu itu bukan telur, dengan berprasangka baik pada para pendahulu diyakini penemu telur yaitu Ama' Lie dan Ina Lie pun tahu bahwa itu bukan telur--toh kita tak boleh berburuk sangka dengan memberi cap orang bodoh pada pendahulu kita. Jadi, mahluk yang ditemukan itu hanya menyerupai telur saja. Dalam bahasa Mongondow dinyatakan "Na' natu" "Notongkai in natu", rupanya dalam perjalanannya kata “Na’” atau “Notongkai in” telah menghilang, mungkin tanpa disengaja karena keasyikan dalam mengisahkan. Dalam kisah yang dituturkan secara mkm (mulut ke mulut) seperti ini sangat wajar kalau ada kata yang hilang, tak perlu ada yang dicurigai. Namun pengkisaan ini masih bisa ditelusuri dan diluruskan.
Di dunia kedokteran, bayi yang lahir seperti telur ini sudah fenomena biasa walau jarang terjadi. Pertengahan tahun 2013, ditemukan bayi yang lahir seperti ini di Yunani. Bayi lahir benar-benar masih dalam balutan selaput ketuban dan bentuknya benar-benar seperti telur. Bayi yang lahir masih terbungkus selaput ketuban ini akan sakit-sakitan jika penanganannya tidak baik. Mokodoludut di dalam kisah, 7 hari baru selaput ketuban yang dia bawa saat lahir pecah. Dia sakit-sakitan yang menghasilkan ritual pengobatan ala Mongondow. Sampai pada taraf ini, kita bisa meyakini bahwa tak ada penyimpangan dalam proses lahirnya Mokodoludut. Dia manusia biasa yang proses kelahirannya luar biasa sehingga menggemparkan semesta Mongondow.
Proses kelahiran semacam ini sangat langka. Menurut Dr Aris Tsigris yang menangani proses kelahiran di Yunani, peristiwa langkah ini hanya terjadi sekali dalam 80.000 kelahiran. Jika kita kembalikan pada masa lalu, dengan jumlah penduduk yang masih sangat sedikit maka bisa kita duga (walau tentu tak bisa kita pastikan) bahwa proses kelahiran seperti ini pertama kali terjadi di tanah Mongondow. Dan ini akan berdampak pada sejarah Mongondow selanjutnya yang menempatkan sang putera dari telur, Mokodoludut, dan anak-cucunya sebagai pemimpin.