Pemilu

Pemilu

Popular Posts

Terpedo 1


Nah, tu terpedonya belum ada yang
ngambil, awas jangan rebutan ya :)
(foto : google)

Palakat : Mengingat urusan terpedo ini ternyata panjang jadi di buat dua tulisan...
 
Selesai kami sarapan, berdatanganlah orang-orang. Rupanya ada juga warga kampung sekitar perumahan yang diminta datang membantu, salah satunya tukang jagal yang konon kabarnya dibayar perkepala—mungkin juga artinya sang tukang jagal punya hak untuk beberapa kepala hewan kurban untuk sekitar berapa hewan kurban yang dia sembeli. Entahlah, itu urusannya bagian keuangan.
Sebelum penyembelihan dilakukan, Pak Bas mendekatiku.
“Mas, terpedonya disimpan ya, jangan dikasih ke siapa-siapa,” bisiknya.
Terpedo?
“Terpedo itu apa, Pak?” tanyaku benar-benar tak paham.
“Walah, repot bicara sama sampean ini. Terpedo saja tak tahu,” rutuknya masih berbisik.
Dia pun ke Andi dan membisikan sesuatu. Andi tertawa, melihat padaku, kemudian mengacungkan jempol pada Pak Bas. Wah, rupanya sedang terjadi konspirasi untuk menjatuhkan martabatku ini, masak martabatku jatuh gara-gara tak tahu terpedo.
Andi pun mendekatiku, dia mesam-mesem mirip putri malu yang tersentuh.
“Mas, kita berdua mendapat tugas khusus dari Pak Bas. Kita harus mengumpulkan terpedo, sesusah apa pun semua terpedo harus kita kumpulkan,” kata Andi.
“Terpedo itu apa to?” tanyaku benar-benar puyeng.
Andi tertawa. “Terpedo itu lho yang sering kamu makan kalau yang bentuk kuenya. Namanya kokam, tapi terpedo ini dari hewan kurban,” dia menjelaskan dan melanjutkan tawanya.
Walah, kokam to, tapi kali ini kokam yang asli. Kokam itu sejenis kue, kalau ditempatku disebut binolos tapi kokam ini kembar berdempet. Isinya biasanya kacang ijo dicampur gula merah yang digoreng tepung. Waktu aku membeli kue ini, aku tertarik dan bertanya tentang namanya. Ternyata kokam itu hanya singkatan dari KOntol KAMbing. Walah, nama kue kok ya saru buanget seperti ini, tapi ya untunglah dinisbatkan pada hewan.
Jadi, misi kami kali ini sebenarnya sangat posible—lawan dari mision imposible. Terpedo alias kokam asli, siapa yang mau berebut? Lha, sesungguhnya masing-masing sudah punya kok, kenapa harus memperebutkan punyanya hewan? Lagian, ngapain juga Pak Bas membuat misi seperti ini—pake tugas khusus lagi. Aneh!
Ternyata tidak seperti yang aku duga. Terpedo ternyata sangat seksi sehingga jadi perebutan yang seru—kalau mau ditelusuri sih sebenarnya perebutan ini bisa jadi saru karena ada juga ibu-ibu yang ikut. Bahkan bapak tukang jagal pun tak langsung menyembeli yang berikutnya, dia malah ikut-ikutan menguliti kambing yang baru dia sembelih hanya untuk mendapatkan terpedo.
“Jag, lha tugas sampean itu menjagal, bukan malah ikut-ikutan menguliti. Ini lho masih banyak yang harus kamu sembeli,” kata Pak Bas, mengintervensi.
Tukang jagal tinggal manyun, Pak Bas pun mengatur mereka yang harus menguliti. Tentu dia harus memilih yang tak menginginkan terpedo. Aku dan Andi juga ikut-ikutan belajar menguliti, tapi begitu terpedo kami dapatkan kami langsung istirahat. Sebenarnya sih bisa saja kami langsung memotong terpedonya walau belum dikuliti, namun rasanya kami tak punya perikehewanan kalau melakukan itu. Lha, kambing sudah mati kok ya masih saja dikebiri.
Akhirnya semua terpedo berhasil kami himpun di dalam satu ember besar dan diletakan di dalam rung tempat kami tidur. Jadinya, tempat tidur kami seperti tempat penjagalan saja—bau amis memenuhi ruang.