Pemilu

Pemilu

Popular Posts

Oya’ alias Malu



 Oya' atau malu sepertinya sudah menjadi trade mark orang Mongondow, dalam berbagai pertemuan sering disebutkan oya' in Mongondow yang disandingkan dengan penyebutan sifat daerah lain. Penyebutan ini memang berkonotasi negatif. Seorang yang pemalu biasanya tidak percaya diri, kuper alias kurang pergaulan, yang ujung-ujungnya tidak mampu bersaing. Dan kondisi ini memang ada di Bolaang Mongondow Raya.
Pada anak, menurut Lynne Kelly seorang ahli tentang pemalu pada anak, penelitian telah menunjukkan bahwa siswa pemalu dianggap kurang kompeten. Walaupun rasa malu ini tidak berkaitan dengan kecerdasan, rasa malu mempengaruhi keseluruhan pengalaman pendidikan secara negatif. Rasa malu menjadi isu penting di dalam kelas ketika siswa dievaluasi, sebagian, partisipasi kelas mereka. Pada kenyataannya, penelitian menunjukkan bahwa siswa yang pemalu akan memiliki nilai lebih rendah daripada angka rata-rata siswa yang tidak pemalu.

Efek menjadi anak pemalu meliputi gugup, penurunan pengembangan hubungan dekat, gangguan belajar, dan mengurangi peluang untuk berlatih dan meningkatkan keterampilan sosial. Ini dapat pada gilirannya akan memiliki efek negatif pada rasa percaya diri anak. Di sisi lain, anak-anak pemalu cenderung untuk kurang bertindak dari anak-anak lain, mungkin karena mereka tidak ingin menarik perhatian kepada diri mereka sendiri dengan melakukan sesuatu yang salah . Meskipun beberapa anak-anak mengatasi rasa malu ketika mereka sudah tua, yang lain tetap pemalu seumur hidup mereka.   Rasa malu dapat mempengaruhi kehidupan anak-anak dalam berbagai cara, dan efek ini dapat berlangsung sepanjang hidup.
Itu malu pada anak yang ternyata berefek juga pada masa ketika dia dewasa. Sekarang, Bolaang Mongondow Raya akan memasuki usia yang ke 59 (dihitung dari terbentuknya Kabupaten Bolaang Mongondow sebelum dimekarkan pada 23 Maret nanti), tentu sudah cukup dewasa jika diukur dari usia manusia. Apakah sifat seperti di atas masih ada?

Oya’ dalam Dimensi Sejarah dan Budaya
Namun Oya' Mongondow ternyata bukan muncul karena sifatnya sekarang tapi memang sudah ada sejak zaman dulu kala dan sifat ini lebih cenderung positif. Menurut cerita almarhum Bernard Ginupit, orang di masa lalu itu punya rasa malu yang besar walau mereka tetap bangga, percaya diri dan berani ketika bersaing dengan pihak luar. Rasa malu mereka ini dapat dilihat dari nasehat bijak mereka agar kita hidup lurus saja seperti pohon pagar (motulid na' patok) dan mereka akan malu ketika berperilaku tidak lurus.
Ada satu yang menarik dari monumen bersejarah, sumpah Paloko-Kinalang (penguasa-rakyat) pada masa pemerintahan Punu Tadohe. Peristiwa ini memang menggemparkan mengingat belum ada sumpah semacam itu. Namun bukan itu yang membuat aku tertarik melainkan aturan-aturan yang dikeluarkan Tadohe. Mengapa monualing dan mokitualing dibahas sampai kehukuman tertinggi yaitu dihukum mati dengan cara dimasukan ke dalam "bubu" (sejenis alat penangkap ikan) dan ditenggelamkan ke laut?
Monualing artinya mengganggu isteri orang, mokitualing berarti seorang isteri yang meminta untuk diganggu. Dalam istilah sekarang ini Hugel.
Setelah kita baca sejarah, ternyata ini ada kaitannya dengan terbunuhnya Dodi yang anak Mokodompit gara-gara Dodi menaru hati pada Pingkan, isteri Matindas. Tadohe sangat malu dan walau Dodi saudaranya seayah namun peristiwa itu membuatnya mengintrospeksi diri dan mengeluarkan peraturan itu di hari pertama dia dilantik menjadi Punu'. Paham ini dilanjutkan oleh Loloda Mokoagow yang menggantikan dirinya.

Epilog
Pada pandangan saya, ada baiknya kita meninggalkan oya' yang terjadi sekarang. Mari kita meningkatkan rasa percaya diri sambil belajar dan berusaha keras memperkuat kemampuan diri ketika diuji. Mari kita bersama-sama patrikan dalam diri kita bahwa kita tak malu lagi menjadi orang Bolmong Raya dan kita tegaskan pada orang luar bahwa kitapun bisa.
Namun kita harus kembali dan mempertahankan malu seperti yang dilakukan di generasi pendahulu. Kita juga harus berani berbuat seperti Punu' Tadohe yang mengeluarkan kebijakan yang  secara implisit menyalahkan Kakak kandungnya. Kita harus kembali ke OYA' zaman dulu yang jangankan mencuri milyaran rupiah (kerennya disebut korupsi atau menipu), bahkan mencuri dagangan yang nilainya hanya beberapa doit  saja ndak berani. Kita harus kembali ke Oya' zaman dulu di mana penyelewengan jabatan tak boleh dilakukan. Kita harus kembali ke Oya' zaman dulu di mana moralitas sangat diperhatikan.
Sebagai penutup, baju baru mungkin indah tapi apakah sekuat baju yang lama? Jadi akan lebih tepat juga jika kita kembali pada baju yang lama yang benar-benar cocok dengan kita dan membuat kita berwibawa.