Pemilu

Pemilu

Popular Posts

Bakal Novel Politik



Kota itu kecil saja, penduduknya tak sampai dua ratus ribu jiwa. Rumah penduduk dibangun di ceruk pegunungan “banyak nama” yang mengitari tempat itu. Rumah-rumah penduduk berderet rapat sehingga dari udara terlihat seperti kumpulan bangunan saja, jika ada teroris yang mau menghancurkan Kota itu, cukup ke puncak tertinggi dari pegunungan “banyak nama” dan melemparkan granat maka hancurlah Kota itu.
Andai Kota itu hancur, rasanya tak ada yang tahu. Kota itu tak ada di peta, tak ada peristiwa penting yang membut Kota itu dikenang baik menasional maupun internasional, juga tak monument peninggalan masa lalu yang berdiri di sana. Kota kecil itu seakan-akan tak pernah ada. Kota itu terletak di pedalaman, untuk ke sana masih melewati hutan. Para pejabat dari pusat yang ditugaskan ke sana hanya datang saat siang dan menyingkir saat malam. Kota kecil itu memang terlalu kecil untuk jadi tempat bermalam bagi mereka. Mungkin saja peristiwa buruk, penggranatan itu akan membuat kota kecil itu dikenal.
Tapi tak ada alasan untuk berbuat anarkis di sana. Masyarakatnya sangat mencintai ketenangan dan kedamaian. Masyarakatnya hanya masyarakat biasa yang hanya ingin melakukan perbuatan biasa, mungkin karena itu juga tak ada yang luar biasa yang akan ditemukan di sana. Mungkin juga itu yang membuatnya disebut Kota Lama, sebuah daerah yang yang tak pernah berubah walau telah berstatus Kota.

Masyarakatnya sangat taat pada tradisi, terlebih mayoritas masyarakatnya masih terikat pda hubungan kekerabatan. Saling menyayangi, saling memperbaiki, saling merindukan—itulah moto masyarakat yang tak mudah digoyahkan. Ini yang menciptakan keamanan dan ketenteraman dalam kehidupan masyarakatnya. Andaipun ada yang mengganggu ketenteraman dan kedamaian itu, angin gunung yang melaju deras ke lembah akan akan menetralisirnya dan kota itu akan tetap seperti itu.
Politik, ya hanya politik yang bisa memburai ketenangan dan kedamaian di sana.
Belum genap sewindu hak memilih pemimpin diberikan langsung pada rakyat, telah muncul beragam persoalan yang ujungnya anarki. Rakyat saling membunuh hanya karena perbedaan pilihan politik.
Kota Lama memang belum berkembang seperti kota yang lain, dia jauh ketinggalan. Namun Kota Lama tak ketinggalan informasi. Dunia seperti dilipat, kata Naisbit. Dalam hitungan detik, peristiwa di tempat lain sudah diketahui masyarakat Kota Lama. televisi sampai internet memberitahukan pada mereka. Masyarakat Kota Lama banyak yang melek teknologi.
Namun hingar bingar yang terjadi di luar sana seakan tak mempengaruhi masyarakat di lembah itu. Politik memang mempengaruhi mereka tapi tidak lama dan tak sampai memunculkan anarkis seperti di tempat lain. Paling lama sebulan setelah pesta demokrasi, masyarakat akan menyatu kembali. Kedamaian dan ketenangan akan selalu ada di Kota Lama. Mungkin kalau ada peristiwa luar biasa baru ketenteraman dan kedamaian di Kota Lama akan goyah.