Pemilu

Pemilu

Popular Posts

Siksa di Hari Pertama (1)

Foto : Google

Hari pertama dan hari terakhir, itu persoalan yang selalu muncul ketika ramadhan. Kalau hari pertama yang jadi persoalan, pasti akan bermasalah dalam penentuan hari lebaran. Organisasi ke-Islam-an jarang bersepakat pada persoalan seperti ini. Wajarlah. Untuk urusan keduniaan mungkin bisalah kita terapkan demokrasi, tapi demokrasi tak mungkin diterapkan dalam urusan ke-Tuhan-an seperti ini.
Kalau demokrasi diterapkan juga dalam urusan ke-Tuhan-an, bisa jadi akan muncul perdebatan tentang system demokrasi yang tepat. Jika system demokrasi yang kita terapkan sekarang ini diberlakukan maka harus di bentuk Komisi Pemilihan, Panwas, Mahkamah yang akan menyidangkan sengketa, dan lain-lain. Berikutnya akan ada kampanye baik kampanye dialogis maupun pengerahan massa. Ketika malam menjelang hari pemilihan, akan ada serangan fajar—kemungkinan juga akan terjadi serangan untuk menggolputkan sehingga suara lawan akan berkurang. Jika belum yakin akan menang walau sudah melakukan serangan fajar, akan diteruskan dengan serangan siang ketika para pemilih sudah ke tempat pemungutan suara. Walhasil, ujung-ujungnya uang yang akan menang. Lha, urusan ke-Tuhan-an kok ya memenangkan uang? Ini jelas sangat tidak seru tapi sudah saru!

Jadi, sebenarnya sudah tepat dikatakan bahwa urusan ke-Tuhan-an itu urusan keyakinan. Logika jelas sangat dibutuhkan karena itulah yang membedakan manusia dan hewan, tapi logika tak bisa dijadikan tumpuan utama untuk menguraikan berbagai persoalan yang terkait hubungan manusia dan Tuhan. Berbagai perbedaan, baik antara pemeluk agama maupun antara golongan-golongan di suatu agama sebaiknya kita terima sebagai bagian dari rahmat.
Namun beginilah manusia. Setiap perbedaan pasti akan memunculkan diskusi yang berlarut-larut, terlebih pada perbedaan antar golongan di dalam suatu agama. Saling tuding akan terjadi, debat ilmiah sampai ke debat kusir tak bisa dihindari.
Aku jelas sudah malas berdebat, tapi menarik juga mencari tahu apa simpulan sementara setiap tahunnya. Termasuk untuk ramadhan tahun 2013 ini. Di kalender disebutkan lebaran 8-9 Agustus, artinya 29-30 hari sebelumnya puasa ramadhan sudah dimulai.
Nongonu mo hari raya tanggal 8-9 yo mopuasa mulaion bi’ tanggal 10?” tanya adikku.
“Bulan Juli itu kan sampai tanggal 31, kalau puasanya juga dimulai tanggal 8 atau 9 berarti kita puasa 30 sampai 31 hari. Padahal kan hanya 29 sampai 30 hari,” jawabku dan langsung melengos pergi, malas memberikan penjelasan berlebihan.
Lagi pula, mengapa perhitungannya dimulai dari lebaran, pastilah sudah mulai terpikir kue serta baju baru padahal puasanya saja belum dimulai. Dari pada berdiskusi melahirkan kisaran belanja dan berapa saya harus menyumbang, lebih baik pergi saja, hahah.
Aku tetap memasang mata dan telinga persoalan awal puasa ini walau malas berdebat. (1)